Hope you enjoy this little thing passed on your life.

Selasa, 08 Maret 2016

renungan sempit

Ketika seberapa banyaknya teman bukan sebagai standar dalam kadar kesepian seseorang dimana ketulusan tak lagi terlukiskan hanya tawa palsu yang kerap diukir diantara belaian kata lembut nan munafik yang lantang diucapkan. Namun hati ini tak kunjung terisi karena ketulusan sudah pergi tanpa sempat menoleh untuk memastikan apakan gadis ini masih butuh dirinya. Hembusan angin yang menenangkan, teriknya sinar matahari yang tak terelakan. Hidupmu tak akan berakhir disini. Satu peristiwa tak pernah menghalangimu untuk bangkit, karena jutaan motivasi masih bergelut dalam diri. Namun, masihkan ada yang kesempatan untuknya kembali. Menatap indahnya bulan, meraungkan gelapnya malam. Jika ia tak ada, mengapa ketulusan itu juga pergi. Mereka bukanlah sepasang padu yang tak bisa dipisahkan hanya masalah waktu. Namun gadis ini siapkah ia menerima. Siapkah ia menunggu. Jika kau ingin tahu bentuk perhatian bukanlah hal penting itu hanya bentuk dari kehampaan makna. Sekarang yang terpenting ialah kehadiran dan pembuktian. Tanpa itu ia hanya seonggok perasaan yang tak terlihat, jika sudah begitu maka apa bedanya ia dengan ketulusan. Ada,ada bedanya. Ketulusan itu asli tak berembel namun ia palsu. Dalam setiap detiknya hanya kepalsuan yang terpancar. Mengapa orang bisa hidup dengan berbohong? Karena berbohonglah alasan ia untuk hidup. Namun mengapa orang bisa berprilaku dengan tulus karena ia hidup untuk ketulusan. Karena apa yang kau perbuat ada refleksi dirimu. Gadis itu hanya berdiam karena ia tak bisa melihat ketulusan juga ia. Berdiri dititik yang sama, menunggu. Itu hanya masalah keci karena hingga kini gadis itu hanya menatap hampa dan menunggu. Jika ia kembali maka ia akan menatap suatu hal. Namun, jika ia kembali dengan ketulusan maka ia melihat jelas pendamping dirinya. 
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

About

Flag Counter

BTemplates.com